Arsip Kategori: Pangan dan Budidaya

Peluang Usaha Budidaya Jeruk Purut

Budidaya jeruk purut ternyata dapat menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Namun, fenomena ini tak dibaca dengan baik oleh kebanyakan orang.
Dalam negeri saja, kita masih kesulitan mencari jeruk purut. Padahal permintaan tak hanya datang dari dalam negeri. Terlebih, untuk perusahaan yang bahan produksinya berbahan dasar jeruk purut,” kata Pembudidaya Jeruk Purut di Batu – Malang, Prambudi. Seperti di Lansir Selarapalanang.

buah jeruk purut
Sedikitnya pembudidaya jeruk purut di Tanah Air, karena kurangnya informasi tentang peluang dan manfaatnya secara umum. Melakukan budidaya jeruk purut, kata Prambudi, tidaklah sesulit yang dibayangkan. Bahkan ia mengawali budidaya jeruk purut ini, hanya bermodal dengkul alias tak banyak modal.
Navigasi :

  1. Perawatan Dasar Jeruk Purut
  2. Proses Tanam Jeruk Purut
  3. Analisa Usaha Budidaya Jeruk Purut
  4. Petunjuk Melakukan Panen Jeruk Purut
preview page nextpage

Budidaya Wasabi, Emas Hijau Yang Populer Di Jepang

wasabi
Wasabi

Brian Oates, selama hampir 30 tahun, telah mengabdikan dirinya untuk mengkomersialkan wasabi di Amerika Utara. Dan puluhan orang lain di Amerika Serikat dan Kanada, telah mencobanya jenis lobak yang berasal dari Jepang ini, di mana wasabi tumbuh secara alami di dasar sungai berbatu.
Namun bukan hal yang mudah, untuk membudidayakan tanaman yang satu ini. Alasannya sederhana, wasabi dianggap oleh sebagian besar ahli tanaman dan petani, menjadi tanaman yang paling sulit dikomersialkan di dunia.
Lalu, apa yang mendorong Oates berbisnis Pacific Coast Wasabi (PCW)?
Tidak lain dan tidak bukan adalah harga dari tanaman ini, di mana harga untuk satu kilogramnya mencapai US$ 160 atau Rp1,9 juta di grosir, sehingga menjadikan tanamannya ini salah satu tanaman yang paling menguntungkan di planet ini.
Wasabi sama seperti seperti emas. Kita membayar banyak untuk emas. Banyak yang membayar mahal untuk wasabi,” kata Oates.
Wasabi awalnya digunakan oleh masyarakat Jepang selama berabad-abad yang lalu, sebagai cara untuk mencegah penyakit.
Tetapi kini penggunaan wasabi lebih kepada rasa pedas yang menyengat, saat menikmati sushi. Dan seiring dengan pertumbuhan makanan khas Jepang di seluruh dunia, maka permintaan wasabi pun kian meningkat. Dan hal itu juga diiringi dengan harga yang meningkat dari tahun ke tahun.
Oates sendiri mengatakan saat pertama kali tertarik untuk bertani wasabi pada tahun 1987, dan ia butuh waktu enam tahun hanya untuk mendapatkan akses ke benih, yang bisa tumbuh menjadi tanaman.
Wasabi tergolong tanaman yang “rewel,” jika terkena terlalu banyak kelembaban, akan mati. Dan jika komposisi unsur hara yang salah, dapat menyebabkan nasib yang sama.
Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani wasabi. Karena itu, untuk menanam wasabi diperlukan waktu yang lebih banyak, dan juga kesabaran.

Tetapi itu semua akan terbayar, kala wasabi berhasil dipanen.
Dan kini, rencananya akhir tahun penelitian tentang wasabi untuk pengobatan akan dilakukan di Malaysia. Dan Oates berharap, wasabi bisa digunakan demi keperluan medis.

Source : BBC

Teknologi Salibu Mampu Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani

padi sawah

Program ketahanan pangan di Indonesia masih bertumpu pada komoditas padi sawah, namun permasalahan paling mendasar adalah kepemilikan lahan yang sempit sehingga usaha tani padi sawah kurang efisien. Untuk itu perlu terobosan teknologi dalam meningkatkan produktifitas dan efisiensi usaha tani padi sawah.
Budidaya Padi Teknologi Salibu (BPTS) merupakan salah satu solusi yang memberi harapan mengatasi permasalahan tersebut. Pada BPTS, tanam hanya satu kali dan panen dapat tiga hingga empat kali, sehingga terjadi pengurangan biaya produksi seperti biaya pengolahan tanah, pembuatan persemaian dan biaya tanam.
Erdiman, dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat menyebutkan, Padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas atau dipangkas.
Tunas akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama. Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama,” kata Erdiman.
Secara ekonomis budidaya salibu menghemat biaya 60 persen untuk pekerjaan persiapan lahan dan menanam, 30 persen untuk biaya produksi, hal ini menekan biaya setara Rp. 2-3 juta/ha sekali panen. Budidaya padi salibu akan lebih ekonomis sekitar 45 persen dibanding budidaya tanam pindah, hal inilah yang meningkatkan pendapatan petani.
Dr. Rusman Heriawan Wakil Menteri Pertanian juga turut memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Balitbangtan melalui BPTP Sumatera Barat yang telah mendukung peningkatan produktivitas padi khususnya di Sumatera Barat, karena sekecil apapun peningkatan tersebut pasti akan memberi kontribusi terhadap produksi beras Nasional.
Sekadar diketahui, teknologi seperti ini merupakan langkah awal Indonesia untuk menghadapi Masyakarat Ekonomi ASEAN (MEA) atau pasar bebas ASEAN yang diberlakukan pada tahun 2015 mendatang.
Nantinya, MEA akan mengintegrasikan seluruh negara-negara Asia Tenggara dalam berbagai bidang terutama di bidang ekonomi. Misalnya, mulai dari bidang pertanian, ketenagakerjaan, investasi, produk, modal, investasi hingga jasa.

Source : Tabloid Pulsa