Teknologi Salibu Mampu Tingkatkan Produktivitas dan Pendapatan Petani

padi sawah

Program ketahanan pangan di Indonesia masih bertumpu pada komoditas padi sawah, namun permasalahan paling mendasar adalah kepemilikan lahan yang sempit sehingga usaha tani padi sawah kurang efisien. Untuk itu perlu terobosan teknologi dalam meningkatkan produktifitas dan efisiensi usaha tani padi sawah.
Budidaya Padi Teknologi Salibu (BPTS) merupakan salah satu solusi yang memberi harapan mengatasi permasalahan tersebut. Pada BPTS, tanam hanya satu kali dan panen dapat tiga hingga empat kali, sehingga terjadi pengurangan biaya produksi seperti biaya pengolahan tanah, pembuatan persemaian dan biaya tanam.
Erdiman, dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat menyebutkan, Padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas atau dipangkas.
Tunas akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama. Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama,” kata Erdiman.
Secara ekonomis budidaya salibu menghemat biaya 60 persen untuk pekerjaan persiapan lahan dan menanam, 30 persen untuk biaya produksi, hal ini menekan biaya setara Rp. 2-3 juta/ha sekali panen. Budidaya padi salibu akan lebih ekonomis sekitar 45 persen dibanding budidaya tanam pindah, hal inilah yang meningkatkan pendapatan petani.
Dr. Rusman Heriawan Wakil Menteri Pertanian juga turut memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Balitbangtan melalui BPTP Sumatera Barat yang telah mendukung peningkatan produktivitas padi khususnya di Sumatera Barat, karena sekecil apapun peningkatan tersebut pasti akan memberi kontribusi terhadap produksi beras Nasional.
Sekadar diketahui, teknologi seperti ini merupakan langkah awal Indonesia untuk menghadapi Masyakarat Ekonomi ASEAN (MEA) atau pasar bebas ASEAN yang diberlakukan pada tahun 2015 mendatang.
Nantinya, MEA akan mengintegrasikan seluruh negara-negara Asia Tenggara dalam berbagai bidang terutama di bidang ekonomi. Misalnya, mulai dari bidang pertanian, ketenagakerjaan, investasi, produk, modal, investasi hingga jasa.

Source : Tabloid Pulsa