Menggenal Hama Kepik Pada Tanaman Kakao

Hama kepik pada kakao adalah sejenis serangga yang menyerang buah kakao ( coklat ) sehingga buah yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman.

kepik

Helopeltis spp

Pada statium rendah, hama kepik pada kakao memang tidak terlalu mengganggu volume produksi secara signifikan, namun dapat menganggu kualitas buah yang dihasilkan.

Untuk itu kita perlu mengenal hama kepik pada budidaya kakao ini secara luas, agar dapat melakukan pengendalian hama tersebut secara tepat dan efektif, baik secara kimia maupun secara biologi ( organik )

Jenis Hama Kepik pada Kakao Secara Biologi

  • Helopeltis spp
    1. Helopeltis spp dewasa bentuknya mirip dengan walang sangit, panjang tubuh lebih kurang 1 cm. Bagian tengah tubuhnya berwarna merah tua, terdapat embelan tegak lurus berbentuk jarum pentul dari bagian belakang berwarna hitam atau kehijauan dengan garis-garis putih.
    2. Telur berwarna putih berbentuk lonjong, diletakkan dalam jaringan kulit buah, tunas dan tangkai buah. Pada ujung telur terdapat dua embelan berbentuk benang yang panjangnya lebih kurang 0,5 mm, yang menyembul keluar jaringan. Lama stadium telur 6-7 hari, stadium nimpa 10-11 hari. Perkembangan dari telur hingga menjadi dewasa 21-24 hari.

      Seekor serangga dewasa mampu bertelur hingga 200 butir.

    3. Tanaman inang berjumlah 24 jenis, diantaranya jambu biji, jambu mete, teh, lamtoro, alpukat, mangga, ubi jalar, Glirisidia dan Moghania sp.
    4. Species Helopeltis di Irian Jaya adalah Helopeltis claviper.
    5. Masa perkembangan 17-20 hari, serangga dewasa dapat berumur maksimum 46 hari. Daerah sebar 0-1670 m dpl.
  • Pseudodoniella spp
    1. Pseudodoniella spp merupakan hama utama tanaman kakao di Irian Jaya dan Papua Nugini.
      Ada tiga species yaitu: Pseudodoniella typica, Pseudodoniella pasifica, dan
      Pseudodoniella laensis.

    2. Panjang tubuh 8 mm, lebar 4 mm.
    3. Ciri khas adalah adanya gelembung di bagian punggungnya ( dorsal ).
    4. P. pasifica dan P. laensis berwarna orange dengan dua bercak warna coklat di bagian dada ( thorax ). P. typica tubuhnya berwarna coklat gelap.
    5. Masa perkembangan serangga P. typica 24-28 hari, telur 14 hari, nimfa 10-14 hari, serangga dewasa 11 hari.
  • Amblypelta spp
    1. Ada dua species hama kakao yaitu Amblyphelta theobromae yang paling merusak, dan Amblyphelta cocophaga.
    2. Daerah sebar di Irian Jaya, PNG, Kepulauan Salomon, Vanuatu, New Caledonia dan Australia.
    3. Daur hidup A. theobromae sekitar 6 minggu.

Gejala Serangan

  1. Perbedaan gejala serangan ketiga species penghisap buah kakao tersebut adalah : Helopeltis spp, ukuran bercak relatif kecil, diameter 2-3 mm dan letaknya cenderung di ujung buah.

    Bercak serangan Pseudodoniella spp sama dengan Helopeltis spp, tetapi distribusinya terpusat pada bagian buah yang terlindung, misalnya pangkal dan bagian yang menempel pada batang.

    Ukuran bercak serangan Amblypelta spp lebih besar dan lebih dalam dari Helopeltis spp dan Pseudodoniella spp dengan distribusi merata di seluruh permukaan buah.

  2. Buah kakao yang terserang tampak bercak- bercak cekung berwarna coklat kehitaman.
  3. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati ( die back ), ranting mengering dan meranggas.
  4. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk.

Pengendalian

  1. Cara yang efektif dan efisien sampai dengan saat ini adalah dengan menggunakan insektisida pada areal yang terbatas dan didasarkan atas pengamatan yang dikenal Sistem Peringatan Dini ( SPD ). Pengamatan dilakukan terhadap adanya serangga atau tusukan baru Helopeltis spp. Penyemprotan secara terbatas ( spot spraying ) dilakukan apabila tingkat serangan Helopeltis spp < 15%.
  2. Jika tingkat serangan > 15% penyemprotan dilakukan secara menyeluruh ( blanket spraying ).
  3. Keberhasilan pengendalian secara SPD ditentukan oleh faktor-faktor: organisasi, ketrampilan dan kedisiplinan tenaga pengamat, penyemprot dan pengawas.
  4. Biologis, menggunakan semut hitam ( Dolichoderus thoracichus ) dan penyemprotan B. bassiana dosis 25-50 gr spora/ha atau 2-5 kg biakan padat/ha dengan volume semprot 500 liter/ha. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa, diletakan diatas jorket.
  5. Pengendalian secara biologis tidak dapat digabungkan dengan cara kimiawi.

Sumber : Pedoman Teknis Kakao

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s