Nyanyian Rumput Gelagah


Dengarkanlah nyanyian rumput gelagah,
Yang sejak terserabut dari anyaman ranjang
Menyanyikan bait-bait cinta yang penuh perasaan
Dan kepedihan
Walau ia dilantunkan bukan dari tempat yang jauh
Rahasianya tak terlihat, tak terdengar siapapun.
Wahai seorang sahabat yang pandai menangkap isyarat
Dan yang mempersatukan jiwanya dengan jiwaku
Adalah lidah api cinta yang membakarku:
Adalah anggur cinta yang mengilhamiku.
Apakah pernah kau tahu pedihnya luka para pecinta?
Dengarkanlah suara nyanyian rumput gelagah.

~ Jalaluddin Rumi ~

~, yang dalam tradisi kepenulisannya membuat variasi metafora yang menawarkan berbagai kemungkinan, dan mengekspresikan satu postur ~, yang sering dikemukakan dalam tulisan-tulisannya tentang sejarah dan keburukan: tidak ada pertentangan antara keduanya.


‘Kekuatan seorang seniman ditunjukkan dengan kemampuannya mencipta karya yang buruk dan yang bagus. …
Keburukan tidak melukainya. Agar dapat mencipta keburukan, kesempurnaan memberikan petunjuk kepadanya’.

Setiap saat Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa ‘buruknya hasil tulisan bukanlah buruknya cara menulis yang diturunkan dari sifat-sifat yang bersifat illahiah.

; The Wisdom of the Sufis
: Kenneth Cragg

: Salam Sahabat,

10 pemikiran pada “Nyanyian Rumput Gelagah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s